Di era
transformasi digital saat ini, peran seorang pendidik telah bergeser secara
fundamental, dari sekadar penyampai materi atau ahli konten menjadi perancang
pengalaman belajar (learning experience designer). Selama kurang lebih 16 tahun
mengajar mata pelajaran Informatika, saya, Rita Wati, menyadari bahwa peserta
didik tidak lagi kekurangan sumber informasi. Internet menyediakan beragam
pengetahuan yang dapat diakses hanya dengan sekali klik. Tantangan terbesar
pendidik saat ini bukan hanya menguasai materi, melainkan merancang proses
pembelajaran yang mampu membantu peserta didik memilih, memahami, mengolah, dan
menerapkan informasi secara kritis serta bertanggung jawab. Karena itu, saya
memandang diri saya bukan satu-satunya sumber pengetahuan di kelas, tetapi
sebagai fasilitator dan pendamping yang mengarahkan peserta didik agar aktif
membangun pemahamannya.
Dalam
menjalankan peran tersebut, saya berupaya memanfaatkan teknologi sebagai sarana
untuk menciptakan pengalaman belajar yang interaktif, kontekstual, dan
bermakna. Salah satu ikhtiar yang telah saya lakukan selama kurang lebih
delapan tahun terakhir adalah mengembangkan blog pembelajaran Cikgu Rita https://www.cikgurita.com/ dan kanal YouTube Cikgu Rita https://www.youtube.com/@cikgurita-bali/videos sebagai media pendukung
pembelajaran Informatika. Melalui kedua media tersebut, peserta didik dapat mengakses
materi, video tutorial, dan sumber belajar dari mana saja dan kapan saja sesuai
kebutuhan serta kecepatan belajarnya. Saya juga terus berusaha mengemas materi
melalui aktivitas digital yang mendorong rasa ingin tahu, eksplorasi,
kreativitas, kolaborasi, dan kemampuan memecahkan masalah. Bagi saya, teknologi
bukan tujuan akhir, melainkan alat untuk memperluas kesempatan belajar dan
membuat pembelajaran lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari peserta didik.
Ke depan,
saya menyadari bahwa menjadi pendidik di masa sekarang menuntut kemauan untuk
terus belajar, beradaptasi, dan melakukan refleksi. Saya perlu menyeimbangkan
pemanfaatan teknologi dengan nilai-nilai kemanusiaan dalam pendidikan, karena
kecanggihan perangkat dan aplikasi tidak akan menggantikan keteladanan, empati,
komunikasi, serta perhatian seorang guru terhadap kebutuhan setiap peserta
didik. Saya ingin terus bertumbuh sebagai pendidik yang tidak hanya mengajarkan
cara menggunakan teknologi, tetapi juga menanamkan etika, literasi digital,
kreativitas, dan tanggung jawab dalam memanfaatkannya. Bagi saya, keberhasilan
integrasi teknologi bukan diukur dari seberapa banyak aplikasi yang digunakan,
melainkan dari sejauh mana teknologi membantu peserta didik belajar lebih
mandiri, kritis, dan bermakna. Inilah komitmen saya sebagai Guru Rita Wati:
terus berinovasi dalam merancang pengalaman belajar yang relevan dengan
perkembangan zaman, tanpa kehilangan sentuhan hati seorang pendidik.





